Berita

STRATEGI PENGEMBANGAN PERILAKU ADAPTIF ANAK TUNAGRAHITA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG

2018-11-03

Abstrak: Artikel ini membahas tentang pengembangan perilaku adaptif anak tunagrahita melalui model pembelajaran langsung. Karaketristik dan keterbatasan anak tunagrahita terutama yang berhubungan dengan perilaku adaptif menjadi menjadi pertimbangan khusus dalam merancang program pembelajaran. Program yang akan dilakukan disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi anak, yang diperoleh dari hasil asesmen yang telah dilakukan. Salah satu strategi yang dapat digunakan yaitu dengan model pembelajaran langsung untuk mengembangan perilaku adaptif. Pembelajaran langsung memiliki tahapan-tahapan yang harus dilalui, diantaranya tahap orientasi, demonstrasi, latihan terstruktur, latihan terbimbing, serta mengadakan latihan mandiri. Peran guru memberikan pengalaman langsung dan melibatkan anak secara aktif dalam setiap kegiatan. Salah satu bentuk pembelajaran langsung yang dapat dilakukan yaitu latihan menggosok gigi. Latihan pembelajaran menggosok gigi ini dapat mengembangkan perilaku adaptif anak dilihat dari aspek komunikasi, bina diri, sosial dan gerak dalam setiap fase kegiatannya. Kata kunci: perilaku adaptif, anak tunagrahita, model pembelajaran langsung Abstract : This article discusses the development of adaptive behavior of children with intellectual disability through direct learning model. The characteristics and limitations of children with intellectual disability mainly related to adaptive behaviors become into special consideration in designing learning programs. The program will be done according to the ability and the child's condition, which is obtained from the assessment that has been done. One strategy that can be used is to direct learning model to develop adaptive behavior. Direct instructional have stages that must be passed, including the orientation stage, demonstration, practice a structured, guided practice, independent practice and conduct. The role of teachers provide direct experience and involve children actively in all activities. One form of direct learning exercises that can be done is brushing his teeth. This learning exercise brushing teeth can develop adaptive behavior of children from the aspect of communication, building self, social and motion in every phase of its activity. Keywords: adaptive behaviour, children with intelectual disability, direct instructional model

Pendahuluan

Tunagrahita merupakan kondisi kompleks, yang ditandai dengan kemampuan intelektual rendah dan mengalami hambatan dalam perilaku adaptif (Dunn & Leitschuch, 2014: 491). Pengertian tunagrahita menurut American Association on Intellectual and Developmental Disabilities atau AAIDD (dalam Hallahan, Kauffman & Pullen, 2009: 147) hambatan ditandai dengan keterbatasan yang signifikan baik dalam 51 fungsi intelektual dan perilaku adaptif seperti yang diungkapkan dalam ranah konseptual, sosial, dan keterampilan adaptif praktis yang terjadi sebelum usia 18 tahun. Menurut Smith & Tyler (2010: 294) seseorang yang mengalami ketunagrahitaan adalah mereka yang mempunyai keterbatasan yang signifikan pada fungsi intelegensi dan pada perilaku adaptif, dan keduanya terjadi pada masa perkembangan anak yaitu sejak dilahirkan sampai usia 18 tahun. Ainsworth & Baker (2004: 1) menyatakan bahwa keterbelakangan mental adalah sindrom perkembangan otak yang terbelakang atau tidak teratur sebelum usia 18 tahun yang menghasilkan kesulitan informasi dan keterampilan yang diperlukan untuk beradaptasi dengan cepat dan memadai terhadap perubahan lingkungan belajar. Pendapat lain dikemukakan oleh Pierangelo & Giuliani, 2008: 56) seorang anak didefinisakan mengalami hambatan mental jika pada aspek belajar, social, dan pola perilaku yang ditunjukkan mengalami keterbatasan dan terjadi pada periode waktu yang lama. Sedangkan menurut Mohammad Efendi (2006: 90), menyatakan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang tidak mampu mengikuti program sekolah biasa, tetapi ia masih memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan, antara lain 1) membaca, menulis, mengeja dan berhitung, 2) menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain, 3) keterampilan sederhana. Ada tiga indikator penting yang menunjukkan seseorang dikatakan sebagai tunagrahita yaitu, 1) intelegensi anak tunagrahita di bawah rata-rata anak pada umumnya, 2) mengalami hambatan dalam penyesuaian terhadap lingkungan, 3) terjadi pada rentang masa perkembangan (usia 0 sampai 18 tahun). Dari tiga indikator tersebut dapat diketahui bahwa selain berpengaruh pada aktivitas pembelajaran, keterbatasan kognitif yang dialami anak tunagrahita akan berdampak juga pada tingkat kemampuan anak dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya, keadaan tersebut menjadikan salah satu alasan bagi anak tunagrahita untuk mendapatkan layanan khusus yang bertujuan untuk membantu melaksanakan tugas perkembangannya. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengetahui hambatan dan kebutuhan anak, maka diperlukan asesmen yang dapat dilakukan sejak dini dan secara berkesinambungan. Ruang lingkup asesmen yang dapat dilakukan merujuk pada aspek akademik maupun non akademik. Dari hasil asesmen tersebut dapat dijadikan dasar untuk 52 menentukan program layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak tunagrahita. Salah satu bentuk layanan program yang dapat diberikan pada anak tunagrahita yaitu melalui model pembelajaran langsung yang melibatkan anak untuk berpartisipasi aktif melalui tahapan-tahapan yang akan memudahkan anak dalam mengikuti setiap kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan dirancang guna mengembangkan perilaku adaptif anak yang bermanfaat dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari, sehingga diharapkan melalui program ini dapat membantu anak untuk mencapai kemandirian.

Karakteristik Anak Tunagrahita

Keterbatasan dalam aspek kognitif, merupakan karakteristik dasar yang melekat pada anak tunagrahita sehingga mampu dikenali secara umum. Anak tunagrahita dalam pencapaian tingkat kecerdasan kemampuannya dibawah rata-rata anak dengan usia yang sama, demikian perkembangan kecerdasannya juga sangat terbatas. Mereka hanya mampu mencapai tingkat usia mental setingkat usia mental anak tingkat sekolah dasar kelas IV, atau tingkat sekolah dasar kelas II bahkan ada yang hanya mampu mencapai tingkat usia mental setingkat anak pra sekolah (James D.Page dalam Mumpuniarti, 2003: 24). Karakteristik yang lebih spesifik terkait dalam fungsi mental dan kecerdasan, mengakibatkan anak tunagrahita menjadi lamban dalam mempelajari hal-hal baru, 2) kesulitan dalam mempelajari hal-hal yang bersifat abstrak serta membutuhkan latihan terusmenerus, 3) kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan, 4) kesulitan dalam menggeneralisasikan sesuatu, 5) memiliki rentan perhatian yang pendek, 6) mengalami kesulitan dalam keterampilan menolong diri sendiri, biasanya anak tunagrahita memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar (Hallahan & Kauffman, 2003: 485-486; Pierangelo & Giuliani: 2008: 56). Aspek kognitif memiliki pengaruh kuat yang menyebabkan anak tunagrahita mengalami hambatan dalam fase perkembangan. Karakteristik anak tunagrahita dilihat dari aspek fisik, secara keseluruhan anak tidak memiliki perbedaan dengan anak pada umumnya kecuali untuk anak down syndrome yang memiliki wajah yang khas. Perbedaan lebih menonjol dapat dilihat dari aspek psikis yaitu dalam kaitannya dengan karakteristik psikologis dan perilaku anak tunagrahita. Beberapa bidang utama hambatan yang dialami anak tunagrahita 53 cenderung mengalami defisit dalam hal perhatian, ingatan, bahasa, mengatur diri, motivasi, dan perkembangan sosial (Hallahan, Kauffman & Pullen, 2009: 157). Anak tunagrahita cenderung tidak mampu untuk mengarahkan diri sehingga segala sesuatu yang terjadi pada dirinya bergantung pada pengarahan dari luar. Mengingat kondisi kepribadian tersebut, maka diperlukan suatu layanan program dimulai dari yang sederhana dan mampu dicapai anak. Program yang yang demikian itu diharapkan dapat memberi pengalaman pada anak dan memotivasi untuk pengarahan dirinya dan mengontrol tingkah lakunya ke arah yang lebih baik. Bimbingan dari orang terdekat (orangtua dan guru) sangat penting terhadap proses pengaturan diri anak tunagrahita. Mereka akan belajar melalui contoh nyata yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitarnya serta pengalaman dalam pembelajaran fungsional yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari anak. Karakteristik dalam perkembangan sosial anak tunagrahita mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan anak usia sebayanya. Anak tunagrahita mengalami berbagai masalah sosial. Keterbatasan dalam hal kecerdasan sosial membuat anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam hal menginterpretasikan interaksi sosial. Sebagai contohnya, anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam memulai untuk berinteraksi dengan orang lain yang sudah dapat terlihat ketika anak masuk usia pra sekolah. Contoh lainnya anak akan menunjukkan perilaku distruktif ketika mereka kurang mendapatkan perhatian (Hallahan, Kauffman & Pullen, 2009: 158). Terkait dengan keterbatasan dalam beradaptasi secara sosial, maka anak tunagrahita membutuhkan pengalaman untuk mengidentifikasi isyarat-isyarat sosial sehingga mereka akan dapat menafsirkan situasi sosial lebih baik lagi (Kirk, Gallagher,& Coleman, 2015: 118). Dibutuhkan pengalaman nyata yang akan membantu anak dalam memahami situasi sosial yang terjadi. Untuk mengenalkan berbagai situasi sosial yang ada, maka guru dapat merancang atau menyeting suatu keadaan dalam kegiatan pembelajaran yang disesuikan dengan materi pelajaran dan tentunya kondisi anak. Dari karakteristik anak tunagrahita yang sudah disebutkan dapat diketahui bahwa selain mengalami keterbatasan dalam fungsi kecerdasan, anak tunagrahita juga mengalami hambatan untuk beradaptasi sesuai dengan tuntutan lingkungannya atau yang biasa disebut perilaku adaptif.

Perilaku Adaptif Anak Tunagrahita

54 Cook Klein (2014: 7) menyatakan bahwa perilaku adaptif adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru serta memiliki keterampilan akrab dalam situasi tersebut. Definisi perilaku adaptif menurut Hallahan, Kauffman & Pullen (2009: 147) adalah tingkat kemampuan atau kefektifan seseorang dalam memenuhi standar kemandirian pribadi & tanggung jawab sosial yg diharapkan untuk usia dan budaya kelompoknya. Menurut Smith & Tyler (2010: 270) perilaku adaptif merupakan segala sesuatu yang digunakan semua orang dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan konsep perilaku adaptif menurut Rochyadi (2010: 43) yaitu perilaku adaptif berfokus pada perilaku sehari-hari, pemenuhan harapan masyarakat dan lingkungan tempat tinggal, serta kemampuan mengatasi secara efektif keadaan yang tengah terjadi dalam lingkungan masyarakatnya. Dari beberapa pendapat ahli tersebut dapat diketahui bahwa perilaku adaptif merupakan kemampuan seseorang untuk menguasai tuntutan sosial di lingkungan mereka. Anak tunagrahita mengalami hambatan dalam perkembangan perilaku adaptif, hal ini dikarenakan keterbatasan dalam fungsi kognitif dan kecerdasan sosial. Oleh karenanya, pengembangan perilaku adaptif untuk anak tunagrahita menjadi sangat penting, karena perilaku adaptif yang baik akan membantu dirinya ketika berinteraksi di dalam suatu kelompok atau masyarakat umum. Pembelajaran perilaku adaptif hendaknya dilakukan sedini mungkin, hal tersebut dimaksudkan agar keterlambatan dalam tugas perkembangan tidak semakin jauh tertinggal dengan anak pada umumnya. Dibutuhkan suatu strategi yang tepat dalam merancang program pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Perilaku adaptif dasar yang harus dikuasai anak terkait dengan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, harapannya ketika anak sudah mampu memenuhi kebutuhan pribadinya dia tidak akan selalu bergantung kepada orang lain. Dampak yang lebih luas lagi ketika anak sudah dewasa yang nantinya akan hidup berdampingan bersama dengan masyarakat, anak akan mampu mengikuti aturan serta menyesuaikan diri selaras dengan norma yang berlaku di masyarakat. Secara umum, indikator ranah perilaku adaptif meliputi tiga hal yakni konseptual, sosial, dan praktek (Smith & Tyler, 2010: 270; Kirk, Gallagher, & Coleman, 2015: 107). Ranah perilaku adaptif yang lain, dikembangkan menurut 55 the Vineland Adaptive Behavior ScalesSecond Edition (Vineland-II) oleh Sparrow, Balla & Cicchett (dalam Community University Partnership for the Study of Children, Youth, and Families, 2011: 3) perilaku adaptif dapat dikelompokkan dalam empat ranah yaitu komunikasi, keterampilan dalam kehidupan sehari-hari, sosialisasi, dan gerak. Masing-masing ranah memiliki aspek-aspek yang bisa dikembangkan.

1. Komunikasi

Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pemahaman informasi dari orang lain. Kirk and Gallagher (2015: 288) menyampaikan bahwa komunikasi adalah pergantian informasi, perasaan dan ide dengan syarat tiga hal yakni penerima, pesan dan pengirim. Komuniksasi dapat terjadi jika ada orang yang mengirim dan menerima pesan, yang dapat dilakukan secara verbal maupun tulisan. Ranah komunikasi dalam perilaku adaptif dibagi menjadi tiga aspek, yaitu reseptif, ekspresif, dan tertulis. Strategi pembelajaran komunikasi untuk anak tunagrahita sering menggunakan komunikasi verbal. Bentuk komunikasi dalam pembelajaran dapat dilihat pada kegiatan tanya jawab di kelas. Mengingat keterbatasan kognitif yang dialami oleh anak tunagrahita, guru hendaknya selalu berusaha menggunakan bahasa yang sederhana sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Hal tersebut dimaksudkan agar pembelajaran dapat berjalan dua arah (komunikatif). Belajar komunikasi dapat diartikan dengan belajar bahasa. Cakupan materi yang dimuat tentang pembelajaran bahasa meliputi kegiatan berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. Guru dapat mengemas pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak dengan memilih metode yang tepat serta menggunakan media yang menarik untuk anak, dan yang paling utama dalam pembelajaran yaitu dengan melibatkan anak secara aktif dalam setiap kegiatan. Salah satu alternatif pembelajaran komunikasi yang telah dilakukan oleh Arvianti Fani (2015) untuk anak tunagrahita yaitu dengan menggunakan pembelajaran langsung. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan bercerita anak dapat meningkat signifikan setelah diberikan perlakuan tersebut. Penggunaan model pembelajaran langsung sesuai dengan kemampuan dan permasalahan yang dihadapi oleh anak tunagrahita. Model pembelajaran langsung dapat membantu anak untuk lebih mudah menyerap materi yang diberikan khususnya bercerita. Kegiatan dilakukan dengan mangajak 56 anak untuk berinteraksi dengan lingkungan melalui materi yang dipelajari dalam pembelajaran secara langsung. Selain itu pemberian intervensi dilakukan secara intensif, hal ini bertujuan agar materi yang diberikan pada anak saat intervensi dapat diterima dengan baik, serta dapat diterima dalam jangkauan waktu yang lama. Pengulangan materi selalu diberikan karena keterbatasan anak tunagrahita dalam mengingat (berpikir abstrak), hal tersebut terkait dengan hambatan kognitifnya.

2. Activity of Daily Living (ADL) atau Bina Diri

Aspek yang perlu dikembangkan dalam ranah bina diri meliputi aspek personel, domestik, dan masyarakat. Aspek-aspek tersebut biasa dilakukan anak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hal ini sangat dibutuhkan untuk anak tunagrahita yang mengalami keterbatasan kognitif. Menurut Mumpuniarti (2003: 7) bina diri adalah kebiasaan-kebiasaan rutin yang biasa dilakukan seseorang seperti berpakaian, makan, beristirahat, memelihara kesehatan, kemampuan untuk buang air kecil dan air besar di tempat tertentu (kamar mandi), keselamatan diri dan tindakan pencegahan terhadap penyakit secara sederhana. Bina diri merupakan aktivitas yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus, tidak terkecuali anak tunagrahita dalam rangka mengembangkan kemandirian anak. Pendapat tersebut didukung oleh Gunarhadi (2005: 120) yang secara garis besar menyebutkan bahwa pembelajaran bina diri merupakan proses komunikatif interaktif antara sumber belajar, guru, dan anak untuk suatu keterampilan yang berkaitan dengan kegiatan mengurus badannya sendiri atau diri sendiri (mandi, makan, kebersihan dan lain-lain) yang nantinya akan menuju pada tujuan akhir yang ingin dicapai yaitu agar anak dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Pembelajaran bina diri merupakan bagian dari perilaku adaptif yang sangat penting untuk dikembangkan bagi anak tunagrahita. Pembelajaran bina diri di sekolah untuk kelas rendah berfokus pada aktivitas sederhana yang biasa dilakukan anak dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dapat dilakukan sedini mungkin serta dimulai dari hal yang mudah disesuaikan dengan kemampuan anak. Ada banyak strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran untuk mengembangkan bina diri anak tunagrahita, salah satunya yaitu dengan pembelajaran langsung yang terbukti 57 mampu meningkatkan kemampuan bina diri anak tunagrahita. Penelitian tersebut dilakukan oleh Rizqha Cendika Raharjo (2016), kegiatan bina diri yang dimaksudkan yaitu keterampilan memasak. Pelaksanaan kegiatan dengan menerapkan tahapan-tahapan yang ada dalam model pembelajaran langsung, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada model pembelajaran langsung terhadap kemampuan bina diri siswa tunagrahita ringan. Selain dengan menerapkan pembelajaran langsung, untuk membantu memudahkan anak dalam belajar maka muatan perilaku adaptif yang berhubungan dengan bina diri dapat disajikan melalui video, gambar-gambar disertai langkah pelaksanaannya yang dilakukan secara bertahap. Peran guru dalam pembelajaran yaitu memberikan bimbingan serta memfasilitasi anak untuk memperoleh pengalaman langsung sehinga aspek-aspek yang akan dikembangkan dapat berfungsi secara optimal.

3. Sosial

Keterampilan sosial merupakan kemampuan individu untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain baik secara verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu, sehingga keterampilan ini merupakan perilaku yang dipelajari. Area yang dikembangkan pada aspek sosial yaitu hubungan antar personal, bermain dan waktu luang, mengikuti aturan, serta kemampuan mengatasi masalah. Keterampilan sosial sangat dibutuhkan oleh anak tunagrahita. Dalam kaitannya dengan pembelajaran perilaku adaptif, materi yang dipelajari untuk mengembangkan keterampilan sosial dapat disajikan dalam bentuk aktivitas anak dalam berinteraksi, bekerjasama dan bermain dengan temannya. Strategi pembelajaran yang dapat dipilih guru, dapat dilakukan dengan permainan atau kegiatan bermain peran dengan melibatkan anak secara aktif dalam setiap kegiatan. Selain itu materi terkait aspek sosial yang dapat dikembangkan dalam perilaku adaptif anak tunagrahita yaitu mengajarkan anak tentang nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Materi ini dapat disajikan melalui ilustrasi gambar disertai keterangan. Guru dapat merancang pembelajaran untuk lebih memahamkan anak mengenai nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Selain itu, guru juga dapat menjelaskan tentang sebab akibat jika anak melakukan suatu perbuatan, baik yang terpuji maupun tercela. Harapannya anak mampu membedakan perilaku yang 58 baik dan buruk, sebagai bekal anak ketika nanti sudah hidup di tengah masyarakat.

4. Motorik (Gerak)

Motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Motorik dibagi menjadi dua yaitu motorik kasar yang berhubungan dengan otot-otot besar (berjalan, berlari, melompat) sedangkan motorik halus merupakan kontrol otototot kecil dari tubuh untuk menguasai keterampilan tertentu seperti menggunting, melukis, dan menulis. (Elizabeth B Hurlock, 1978: 159; Hannurofik, 2016: 10). Muatan perilaku adaptif pada ranah motorik baik untuk motorik kasar dan halus disajikan melalui kegiatan yang melibatkan aktivitas anak melalui gambar yang berwarna. Materi untuk mengembangkan keterampilan kasar, dapat dilakukan dengan menyajikan materi dengan tema olahraga yang melibatkan aktivitas fisik anak seperti berjalan, berlari, melompat dan lain sebagainya. Sedangkan untuk aspek motorik halus, disajikan melalui gambar tentang kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari misal memakai baju, memakai sepatu, menyapu kemudian anak diminta mempraktekkannya serta kegiatan anak menulis yang disajikan dalam bentuk lembar kerja. Guru dapat memberikan bimbingan sesuai dengan tingkatan anak serta merancang pembelajaran yang menarik sesuai dengan tujuan kompetensi yang ingin dicapai. Model Pembelajaran Langsung Model pembelajaran dapat dijadikan salah satu pedoman bagi guru untuk merencanakan pembelajaran. Menurut Agus Suprijono (2010:46) model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tutorial. Sedangkan menurut Arends (2001: 17) model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuantujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu anak untuk mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, dan mengekspresikan ide. Ada berbagai macam model pembelajaran, salah satu model yang dapat digunakan guru untuk pembelajaran anak tunagrahita yaitu model pembelajaran langsung. Menurut Killen (2010, 118) model pembelajaran 59 langsung memberikan informasi sepenuhnya yang menjelaskan konsep dan prosedur dimana anak diwajibkan untuk belajar serta mendapat dukungan strategi pembelajaran yang kompatibel sesuai dengan kemampuan kognitif manusia. Pendapat lain dikemukakan oleh Rosdiani (2012: 6) bahwa pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang lebih berpusat pada guru dan lebih mengutamakan strategi pembelajaran efektif guna memperluas informasi materi ajar. Dari pendapat yang dikemukan ahli dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran langsung, secara keseluruhan kegiatan berpusat pada guru yang disertai prosedur dalam pelaksanaan kegiatannya guna untuk menjelaskan konsep terkait dengan materi yang akan dipelajari. Dalam pembelajaran untuk anak tunagrahita terutama yang masih berada di kelas rendah dan memiliki keterbatasan kognitif yang cukup kompleks, maka bimbingan dan bantuan dari guru sangat diperlukan di dalam proses kegiatan belajar. Hal ini sesuai dengan karakteristik anak tunagrahita yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep serta membutuhkan bimbingan tambahan jika dibandingkan anak pada umumnya. Walaupun berpusat pada guru, pembelajaran untuk anak tunagrahita tetap harus melibatkan anak secara aktif untuk berpartisipasi penuh dalam semua kegiatan sesuai dengan kemampuan anak. Selain itu, dalam pembelajaran untuk anak tunagrahita dibutuhkan strategi yang tepat untuk mengakomodasi kebutuhan anak yang disesuaikan dengan karakteristiknya. Pembelajaran langsung secara khusus dirancang untuk mempromosikan belajar anak dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan secara langkah demi langkah terhadap anak (Arends, 2001: 40). Pengetahuan deklaratif (dapat diungkapkan dengan kata-kata) dimaksudkan pada pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuanprosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Secara garis besar hal tersebut sesuai dengan karakteristik anak tunagrahita yang telah disebutkan sebelumnya, yang jika dikaitkan dalam pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan secara bertahap dimulai dari hal yang sederhana kemudian baru hal yang lebih sulit sesuai dengan kemampuan anak. Sehingga, peran guru dalam pembelajaran yaitu memfasilitasi anak untuk dapat lebih mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui kegiatan pembelajaran. 60

Tahapan Pelaksanaan Model Pembelajaran Langsung.

Tahapan pelaksanaan model pembelajaran langsung menurut Arends (2001: 35) dan Sofan Amri & Iif Khoiru (2010: 43-47) secara garis besar terdiri dari lima fase. Fase pertama yaitu fase orientasi. Pada fase ini guru memberikan gambaran kegiatan pembelajaran dan memberikan orientasi terhadap materi yang akan dipelajari. Kegiatan yang dilakukan pada fase pertama diantaranya kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki anak, mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pembelajaran, memberi penjelasan atau arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan, menginformasikan materi atau konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran serta memberikan motivasi kepada anak. Fase kedua yaitu presentasi atau demonstrasi. Pada fase ini guru menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep atau keterampilan yang meliputi penyajian materi, pemberian contoh konsep, pemodelan atau peragaan keterampilan, memberikan penjelasan ulang terkait dengan materi baik dalam hal konsep maupun keterampilan yang dianggap sulit atau materi yang belum dipahami anak. Fase ketiga yaitu latihan terstruktur. Dalam fase ini, guru merencanakan dan memberikan bimbingan kepada anak untuk melakukan latihan-latihan awal. Fase keempat yaitu fase latihan terbimbing. Pada fase ini, anak diberikan kesempatan untuk berlatih konsep dan keterampilan serta menerapkan pengetahuan atau keterampilan tersebut ke situasi kehidupan nyata. Latihan terbimbing ini dapat digunakan guru untuk mengakses kemampuan anak dalam melakukan tugas, mengecek atau memantau ketepatan anak dalam melaksanakan tugas, guru memberikan umpan balik kepada anak dan memberikan bimbingan jika diperlukan. Fase kelima yaitu fase latihan mandiri. Pada fase ini, siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri kemudian guru memberikan umpan balik bagi keberhasilan siswa. Kegiatan latihan mandiri pada fase terakhir ini dapat dilakukan melalui pemberian tugas yang dapat dilakukan di sekolah melalui praktek langsung atau dapat juga melalui tugas yang dikerjakan di rumah. Tentunya dalam pemberian tugas secara 61 mendiri ini disesuikan dengan tingkatan kemampuan anak, sehingga anak tidak akan mengalami kesulitan yang bearti dalam melaksanakan tugas mandii serta dapat untuk meningkatkan kepercayaan diri anak dalam menyelesaikan tugas.

Strategi Pembelajaran Langsung untuk Mengembangkan Perilaku Adaptif Anak Tunagrahita

Seperti yang telah diketahui bahwa keterbatasan kognitif anak tunagrahita menyebabkan anak kesulitan dalam menguasai perilaku adaptif sehingga ia mengalami keterbatasan dalam menghadapi situasi yang berbeda. Diperlukan materi dan latihan-latihan khusus untuk mengembangkan perilaku adaptif anak yang dapat dilakukan melalui pembelajaran yang ada di sekolah. Kurikulum yang berlaku di sekolah khusus (SLB) bagi anak tunagrahita saat ini yaitu Kurikulum 2013. Di dalam Kurikulum 2013 ini, program khusus yang ditawarkan guna mengembangakan keterampilan adaptif anak tunagrahita dikemas dalam suatu program yaitu Program Pengembangan Diri (PPD). Program pengembangan diri bagi anak tunagrahita dikembangkan sesuai dengan ranahnya masing-masing. Secara spesifik, pengembangan program dilakukan melalui aspek-aspek kegiatan yang meliputi: keterampilan merawat diri, keterampilan menjaga keselamatan dan kesehatan, keterampilan berkomunikasi, keterampilan bersosialisasi, keterampilan bekerja, dan keterampilan menggunakan waktu luang di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Program pengembangan diri diarahkan untuk mengembangkan kemampuan anak tunagrahita dalam melakukan aktifitas yang berhubungan dengan kehidupan dirinya sendiri sehingga mereka tidak selalu bergantung kepada orang lain. Bentuk program pengembangan diri yang dapat dilakukan dalam konteks pembelajaran di sekolah, salah satunya dapat dilaksanakan melalui model pembelajaran langsung. Mengingat keterbatasan dan kondisi yang dialami anak tunagrahita, melalui tahapantahapan yang ada dalam model pembelajaran langsung maka hal ini sesuai dengan kebutuhan anak. Strategi pembelajaran langsung dirancang untuk mengenalkan anak terhadap materi pelajaran guna membangun minat, menimbulkan rasa ingin tahu, dan merangsang anak untuk berpikir. Anak tidak bisa melakukan kegiatan jika pikiran mereka dikendalikan oleh guru, sekalipun untuk anak tunagrahita. Oleh karenanya, strategi pembelajaran langsung melalui berbagai pengetahuan 62 dan keterampilan secara aktif merupakan cara untuk mengenalkan anak kepada materi pelajaran yang akan dipelajarinya. Model pembelajaran langsung dirancang khusus untuk menunjang belajar anak yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah, seperti program pengembangan diri bagi anak tunagrahita yaitu kegiatan latihan menggosok gigi. Kompetensi yang akan dicapai dalam kegiatan menggosok gigi yaitu anak mampu membersihkan dan menjaga kesehatan badan dengan cara yang benar (Dedy Kustawan & Yanti Lisnawati, 2014: 10). Kegiatan dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan yang terdiri dari lima fase dalam pelaksanaan model pembelajaran langsung. Fase pertama yaitu fase orientasi, kegiatan yang dilakukan dalam fase ini yaitu kegiatan pendahuluan dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa baik secara fisik maupun mental sebelum pembelajaran dimulai. Bentuk kegiatan dapat dilakukan melalui pertanyaan sederhana, diskusi, atau bernyanyi bersama yang dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari yaitu latihan menggosok gigi. Fase kedua yaitu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan. Guru dapat menyampaikan materi terkait dengan menggosok gigi misalnya tujuan menggosok gigi, manfaat menggosok gigi, kerugian jika tidak pernah menggosok gigi, serta hal-hal yang diperlukan dan diperhatikan dalam menggosok gigi terkait dengan cara yang tepat dan alat yang digunakan. Guru dapat mendemonstrasikan kegiatan melalui penjelasan materi yang didukung dengan video atau gambar-gambar yang menarik tentang latihan menggosok gigi. Kegiatan ini dimaksudkan agar dapat merangsang minat anak untuk belajar dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Fase ketiga yaitu menyediakan latihan terstruktur. Setelah guru mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan latihan menggosok gigi secara langsung dengan bimbingan guru. Keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan dapat meningkatkan kemampuan, membuat belajar berlangsung dengan lancar, dan memungkinkan siswa menerapkan konsep atau keterampilan pada situasi yang baru. Fase keempat yaitu latihan terbimbing dan pemberian umpan balik. 63 Dalam fase ini, guru dapat menganalisa kemampuan yang sudah dimiliki anak melalui pengamatan ketika anak menggosok gigi sendiri. Guru memberikan penguatan terhadap respon atau kemampuan anak yang sudah benar dan mengoreksi atau memberikan bimbingan terhadap kemampuan anak yang masih belum tepat. Fase terakhir yaitu memberikan kesempatan latihan mandiri. Pemberian latihan ini dapat dilakukan dengan cara memberikan tugas untuk melanjutkan latihan menggosok gigi di rumah. Agar kegiatan dapat lebih efektif, guru dapat bekerjasama dengan orangtua agar bersedia mengawasi kegiatan anak terkait dengan cara dan waktu yang tepat ketika menggosok gigi di rumah. Untuk lebih memotivasi anak dan memberikan penguatan, guru dapat memberikan reward bagi anak yang sudah mampu melakukan kegiatan menggosok gigi dengan benar dan sudah melakukannya secara rutin. Dari uraian setiap fase dalam kegiatan menggosok gigi melalui pembelajaran langsung, dapat diketahui aspek-aspek dalam perilaku adaptif yang dapat dikembangkan. Aspek tersebut dapat dilihat dari masing-masing ranah dalam perilaku adaptif yaitu ranah komunikasi, sosial, bina diri, dan motorik yang terangkum dalam satu kegiatan yaitu menggosok gigi. Untuk ranah komunikasi baik verbal maupun non verbal, kemampuan komunikasi anak dikembangkan melalui kegiatan ketika anak menyimak materi yang disampaikan guru, kegiatan diskusi, dan pemahaman anak terhadap tugas yang diberikan guru. Ranah sosial dikembangkan melalui interaksi antara guru dan siswa, serta siswa dengan siswa lainnya ketika mengikuti setiap proses pembelajaran. Ranah bina diri (activity of daily living) dikembangkan melalui kegiatan menggosok gigi untuk membantu anak dalam merawat dirinya sendiri dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada ranah motorik dikembangkan melalui praktek langsung ketika menggosok gigi, yang dapat dilihat pada kegiatan ketika anak mengoleskan pasta gigi ke sikat gigi, serta cara menggosok gigi dengan gerakan yang tepat.

Penutup

Anak tunagrahita memiliki keterbatasan kognitif, sehingga hal itu berpengaruh dalam perkembangan perilaku adaptifnya. Anak tunagrahita mengalami kesulitan ketika harus menyesuaikan diri pada situasi baru, oleh karenanya latihan dan variasi pengalaman sangat diperlukan. Strategi program pengembangan diri untuk anak tunagrahita dapat dilakukan dengan 64 menggunakan model pembelajaran langsung. Langkah awal sebelum melaksanakan program yaitu dengan melakukan asesmen untuk mengetahui tingkat kemampuan anak. Bentuk pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui tahapan-tahapan pelaksanaan dalam pembelajaran langsung yang terdiri dari lima fase. Guru berperan untuk merangsang dan menumbuhkan pengetahuan serta keterampilan sesuai materi yang dipelajari. Selain itu, anak diharapkan untuk memiliki minat belajar dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Program pengembangan diri melalui model pembelajaran langsung ini dimaksudkan untuk memberikan keterampilan perilaku adaptif bagi anak. Melalui penguasaan keterampilan perilaku adaptif diharapkan mereka dapat berperilaku sesuai dengan usianya pada konteks sosial dan budaya tempat anak tunagrahita tersebut tinggal, dimulai dari materi fungsional yang dibutuhkan anak dalam kegiatan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Arvianti Fani. 2015. Model Pembelajaran Langsung Terhadap Kemampuan Bercerita Anak Tunagrahita Ringan Di Slb AC. Surabaya: Jurnal Pendidikan Khusus Arends, R.I. 2001. Exploring Teaching: An Introduction to Education. New York: MC Graw -Hills Companies Dunn, John.M & Leitschuh, Carol.A. 2014. Special Physical Education. Lowa: Kendall / Hunt Publishing Company Gunarhadi. 2005. Penanganan Anak Sindroma Down dalam Lingkungan Keluarga dan Sekolah. Jakarta: Depdiknas Hallahan, Daniel P & Kauffman, James M. 2009. Exceptional theory : introduction to special education. New Jersey : Prentice-Hall International. Hannurofik. 2016. Teori-Teori Perkembangan Motorik Anak Usia Dini. [Online]. tersediahttp://www.scribd.com/doc/ 33133473/Teoriteoriperkembangan-Motorik-Aud. (24 Mei 2016) Kille, Roy. 2010. Effective Teaching Strategies: Learning from research and practice. Australia: Cencage Samuel, Kirk, Gallagher, James & Coleman, Mary Ruth. 2015. Educating Exceptional Children. United States of America: CENCAGE Learning. Inggals, Robert.P. 1978. Mental Retardation The Changing Outlook. New York: John Wiley & Sons, Inc Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mumpuniarti. 2007. Pendekatan Pembelajaran Bagi Anak Hambatan Mental. Yogyakarta: Kanwa Publisher Rizqha Cendika Raharjo. 2016. Model Pembelajaran Langsung Terhadap Kemampuan Bina Diri Anak 65 Tunagrahita. Surabaya: Jurnal Pendidikan Khusus Smith, Deborah Deutsch & Tyler, Naomi Chowdhuri. 2010. Introduction to Special Education. United Stated of America: Pearson Sparrow, S.S; Balla, DA; Cicchetti, DV. 1984. Vineland Adaptive Behavior Scale: Interview Edition Survey Form Manual. USA: American Guidance Service, Inc Then, Cook Klein. 2014. Adapting Early Childhood Curriculum for Children With Special Needs. USA: Pearson Community University Partnership for the Study of Children, Youth, and Families. 2011. Review of the Vineland Adaptive Behavior Scales-Second Edition (VinelandII). Canada: Edmonton, Alberta . 6

KATEGORI


Recent berita


Thumbnail [225px x225]

STRATEGI PENGEMBANGAN PERILAKU ADAPTIF ANAK TUNAGRAHITA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG

Abstrak: Artikel ini membahas tentang pengembangan perilaku adaptif anak tunagrahita melalui mode

Selengkapnya..
Thumbnail [225px x225]

Dramaturgi Politik Jelang Pilpres

Nurudin 
Kepala Pusat Kajian Sosial Politik, FISIP, Universitas Muha

Selengkapnya..
Thumbnail [225px x225]

Permainan Politik Bocah

Ketika memasuki kelas 4 Sekolah Dasar (SD), saya pernah menemukan sebuah layang-layang yang tersa

Selengkapnya..
Thumbnail [225px x225]

BUDAYA: MINANGKABAU. ASALNYA PERANTAU HEBAT

Minangkabau.
Adalah salah satu suku budaya dari bermacam-macam suku budaya di Indonesia, a

Selengkapnya..
Thumbnail [225px x225]

WAJIB TAHU, 9 BUDAYA INDONESIA YANG SUDAH DIAKUI SECARA RESMI OLEH UNESCO

Indonesia memiliki budaya yang sangat beragam. Setiap daerah, punya budayanya masing-masing.

Selengkapnya..